a Letter to the beloved one

Berikut adalah sepenggal surat dari Seby, salah satu sepupu gw & Deni.
Surat ini dibacain oleh Lewi sesaat sebelum penutupan peti. Seby sendiri ga bisa datang, karna saat itu Seby juga lagi sakit.


Dear my brother Daniel Josef,

So many things i wanted to say to you will now be left unsaid. So many things i wanted to do for you will now be left undone. Sometimes i chose to be away from you because i can't stand to see how life has been unfair to you. I could never understand why such a humble and beutiful person like you is never really given the chance to take on the world. I could never understand why such a chance is instead given to someone like me who probably did not deserve it more than you did. But now, you can finally get all off that.

Deni my brother, i probably never told you how much i care about you. I probably never told you that i've always loved you like my brother, but there's one thing you should know : i never stop thinking about you. You are indeed the little brother that i never had. I can still remember clearly how we used to spent all our times together when we were kids. I still remember all the good and bad things that we learned growing up. As years went by, i changed. I let all the glimmering lights of life changed me. But you, you stayed the same. You are still the humble Daniel that i know; you still the kind-hearted person that will do everyting for everyone around you without asking for anything in return.

Even though we grew apart, i never really stop thinking about you ______________________

Rest in Peace My Beloved Brother, Daniel

Lisa telp, tamu2 sudah semakin banyak yang datang dan misa requim yang akan diselenggarakan malam itu butuh persiapan, jadi kita harus segera balik lagi kerumah duka.

Setibanya di rumah duka, rasa haru dan sedih tak terkira kembali menghujam!! Melihat begitu banyaknya orang yang hadir untuk mendoakan arwahnya Deni, begitu banyaknya karangan bunga yang terbentang dari ujung jalan masuk sampai ke ruang duka, bahkan terjadi penumpukan di beberapa tempat, menunjukkan betapa Deni adalah sosok yang mempunya arti tersendiri bagi orang2 itu.
Yaaa, SEMUA orang SAYANG Deni!!!! Semua orang yang tau dan kenal sosok Deni merasakan seperti apa yang gw dan keluarga rasakan, KEHILANGAN!!!

Sebelum misa requim dimulai, Lewi tiba di rumah duka dengan tampilan sedikit kusut karna perjalanan Palu-Jakarta 2jam lebih dan harus bergelut dengan kemacetan ibukota, supaya bisa hadir tepat waktu untuk mengikuti misa requim, langsung memberikan pelukan khasnya. Seakan ingin mentransfer semua kekuatannya ke gw, yang saat itu sangat nyata terlihat begitu fragile, supaya gw bisa lebih kuat dan tabah.
Lewi, yang awal April lalu baru mulai ditempatkan dinas di Palu, langsung pulang begitu mendapat kabar soal Deni. Sejak pacaran 7tahun en akhirnya kita married, Lewi adalah salah satu sosok yang cukup dekat dengan Deni yang sangat pemalu, pendiam dan tertutup. Entah kenapa, Deni bisa lebih terbuka ke Lewi daripada ke gw maupun Lisa (mungkin faktor dominan dari gw en Lisa juga). Biasanya gw minta tolong Lewi untuk bantu mancing2 apa yang ada dibenaknya Deni, supaya Deni bisa lebih terbuka, khususnya dalam hal percintaan (gw paling usil en serba pengen tau siapa2 aja yang lagi deket sama Deni. Bukannya pengen diplonco ato minta ditraktir karna abis "jadian" dsb, tapi gw hanya pengen tau, ceweq2 macam apa yang deket sama kakak gw itu. Mengingat Deni itu orangnya buaiknya minta ampun, gw ga mau dia diperalat sama ceweq2 yang suka matre!). Dan biasanya Lewi sukses menjalankan misi tersebut ☺

Maigot!!!! Gw jadi inget, waktu dalam perjalanan ke carolus, gw sempet sms en nelp temen2nya Deni. Dari salah satu HPnya Deni, gw liat ada panggilan keluar jam 5 pagi, en nomor yang dituju adalah Lewi!!! Deni sempet nyoba nelp Lewi jam 5 pagi!! Jam 6 pagi waktu Palu, dimana Lewi seharusnya udah bangun jam segitu untuk siap2 ke kantor. Tapi karena HPnya Lewi di silent, jadi Lewi ga ngeh, bahkan kalo gw ga kasih tau siang itu perihal miskol, Lewi ga check HPnya yang satunya lagi itu :((
Jangan2 saat itu Deni mau bilang sesuatu atau bahkan mau pamit ke Lewi??

Again, gw tenggelam dalam pikiran2 gw sendiri. Bertanya2, kira2 apa yang hendak Deni sampaikan ke Lewi pagi itu? Gimana perasaan Deni ketika ada nada sambung tapi tidak ada yang mengangkat diseberang sana? Apa yang ada dalam pikirannya, ketika dalam sisa2 tenaganya, berjuang melawan sakratul maut, berharap ada orang yang mengetahui situasinya saat itu? Seriously, gw pasti akan jauh lebih tenang, kalo semua pertanyaan itu ada jawabannya!!

Misteri kehidupan dan KEMATIAN, kata mereka! Deni udah tenang en lebih bahagia bersama Bapa di surga, kata2 yang terus diulang oleh orang2 yang turut hadir berbelasungkawa.
Yah..andaikan semudah itu mencerna kata2 mereka dan menghadapinya. Andai ada manual book untuk hal2 seperti ini.

Misa Requim malam itu dipimpin oleh Rm. Dibyo (salah satu Rm. Paroki St. Anna), dibantu pihak keluarga dan umat dari lingkungan St. Elizabet, serta tim Paduan Suara bersama organis dari KAJ (thanks to my dearest friend Natalia Yaya, yang berhasil mendatangkan tim PS dan organisnya disaat dadakan seperti itu).




Selasa, 13 April 2010, kami mengadakan misa tutup peti dan penghormatan terakhir untuk Deni.
Dari yang tadinya panas terik, dimana hampir semua tamu yang hadir pegang kipas ato buku misa untuk kipasan, tiba-2 langit berubah menjadi gelap gulita en hujan turun dengan derasnya selama misa.
Berbagai macam pikiran sudah berkecamuk : kalo hujan deras seperti ini, bagaimana iring-2annya nanti ke makam Deni? Mama bisa sakit kalo sampe keujanan, tanah di makam juga pasti becek, kasian sama Tante-2 Om-2 dan semua yang bakalan hadir di makamnya Deni nanti, dan pikiran-2 lainnya..

Thank God, hujan berhenti tepat pada waktunya. Selesei misa, langit tiba2 cerah lagi,  sehingga tidak ada kendala untuk melanjutkan ke prosesi berikutnya, yaitu penutupan peti, penghormatan terakhir dan iring-2an ke tanah kusir.
Sayangnya, dalam perjalanan ke makam, hujan deras kembali mengguyur, jadi ga tega ngeliat para voorrijder ujan-2an dalam mengawal perjalanan iring-2an (ada lebih kurang 20an mobil)ke tanah kusir.
But thank God again, sesampainya di tanah kusir ternyata disana kering kerontang, ga ujan sama sekali, cuaca memang sedikit mendung tapi itu malah menguntungkan, karena pemakamannya Deni adalah jam 2 siang, dimana seharusnya matahari lagi terik-2nya saat it.

Dipimpin oleh salah 1 prodiakon dari paroki St.Anna, upacara pemakaman Deni berjalan lancar..
Dan sampai disitulah perjalanan hidup dari seorang Daniel Joseph Soekarso..

Selamat jalan Deni..
Selamat berbahagia di sisi Bapa..
Bila tiba saatnya nanti, kita berkumpul kembali dalam rumah Bapa ya, Den....
Love you so much, Den..

Gone too soon

Udah lama banget ga buka blog ini..padahal banyak banget yang mo ditumpahin disini.


Hmmm...mulai darimana yach?


Geeez..I really dunno how to start this post!!


Setelah bulan Maret 2x berturut2 menghantarkan kepergian orang2 tercinta dari sahabat maupun kerabat gw (Maria, pacarnya Dave, sahabat dekat gw en mamanya Anna, kakak iparnya Lewi), gw ga nyangka sama sekali kalo akhirnya April lalu gantian gw yang ditemani sahabat dan para kerabat untuk menghantarkan kepergian salah satu sosok yang gw cintai.

Bagaikan mimpi buruk disiang bolong, tapi ini bahkan belum juga siang! Matahari baru mulai tersenyum di pagi itu, tapi ternyata senyuman itu bukan ditujukan buat gw sekeluarga!
Seperti baru terjadi kemarin, masih teringat jelas detail demi detail yang terjadi pagi itu! Semuanya terjadi begitu tiba-2, tanpa ada firasat ataupun tanda-2.

Hari itu, Senin, 12 April 2010, jam 7. 43 WIB
Gw lagi di kamar, siap-2 untuk berangkat ke kantor sambil nonton infotainment di trans7. Tiba-2 ada suara ketukan kencang di pintu kamar, en ternyata itu Papa (fyi, Papa jarang banget naek keatas, selain karena separo diatas cuman ada kamarnya Deni, kamar gw en ruang tamu di depannya, saat itu bagian diatas lagi direnovasi jadi lagi super berantakan abis. Ruang tamu gw aja penuh dengan romel dan barang-2 hasil pindahan).

Dengan muka panik dan suara sedikit ngos-2an, Papa bilang : “Cis, Papa coba bangunin Deni daritadi tapi ga bangun-2. Kamu tolong jaga kakakmu dulu ya, Papa mo ke rumah depan untuk matiin api di kompor, karena tadi Deni minta dibikinin bubur”.

Saat itu juga gw langsung lari ke kamar Deni, dan menemukan Deni terbaring di tempat tidurnya dalam keadaan terlentang dan salah satu kakinya tergantung.
Gw coba bangunin Deni pelan-2, tapi dia ga mo bangun. Gw guncang-2 badannya en dia tetep ga bergeming. Saat itu gw mulai ngerasa ada yang ga beres, gw pun mulai nangis dan berteriak-2 : “Den.. Deni bangun, Den.. Den, banguuuun!!! Bangun, Den!!!!!!”. Teriakan gw yang mampu membuat hening para tukang yang sedang bekerja, teriakan yang selama ini suka bikin Deni bĂȘte pun ga bisa membangunkan dia dari tidurnya.
Gw pegang kakinya yang tergantung, bermaksud untuk merapikan posisinya, kakinya terasa begitu dingin. Gw pun mulai memegang kakinya yang satu lagi, dan ternyata badannya Deni dingin mulai dari kaki hingga sebatas pinggang. Gw panik dan kembali histeris dan berteriak-2 : “Tuhan, tolong jangan ambil dia… Jangan ambil kakak ku!!”. Ditengah-2 kepanikan itu gw terus mencari apa yang tidak beres dari situasi ini. Then gw liat dadanya Deni datar, tidak ada pergerakan naik-turun selayaknya orang yang sedang bernapas. Gw pun sempet mompa jantungnya, tapi gw menyerah dihitungan kelima (salah satu yang gw sesali, kenapa gw menyerah secepat itu, eventhough gw ga tau itungan yang tepat ato cara melakukannya dengan benar, tapi seharusnya saat itu gw tetap terus mencoba). Gw juga berusaha membuka mulutnya untuk memberikan napas buatan, namun mulutnya terkunci rapat, ga bisa dibuka sama sekali.

Waktu Papa kembali dari rumah depan, entah apa Papa sudah menyadari akan hal ini namun berusaha untuk tetap kuat dan mencoba menenangkan gw, atau Papa masih berpikir kalo Deni hanya pingsan seperti kejadian beberapa tahun yang lalu saat Deni dilarikan ke RS dalam keadaan tidak sadarkan diri dan masuk ICCU hampir seminggu lamanya karena gula darahnya menembus angka 500. Papa bilang ke gw untuk tenang.. Deni cuman pingsan. Tadi pagi Papa masih sempet bbm Deni untuk istirahat aja di rumah, ga usah ngantor kalo ga enak badan. En karena ga ada balasan dari Deni, Papa naek ke kamarnya Deni yang saat itu dalam posisi tengkurep bilang ke papa kalo jantungnya berdetak kencang sekali en dia juga minta dibuatin bubur buatannya Papa. Papa yang tidak ada firasat apapun soal ini, mencoba membalikkan badannya Deni, supaya Deni bisa bicara lebih jelas dan dadanya tidak tertekan karena posisi tengkurepnya itu. Kemudian papa kerumah depan untuk bikinin buburnya. Tapi karena Papa inget Deni harus minum obat dulu sebelum makan, jadi Papa balik lagi kerumah, bawain Deni air minum elektromagnetik dan obatnya. Dan saat itulah Deni udah ga bisa dibangunin.

Papa udah ngabarin Mama soal kondisi Deni en Mama udah muter balik otw home. Karena hari itu adalah hari senin, dan jam segitu adalah jam-2nya macet orang-2 berangkat ke kantor, so gw sama Papa mutusin untuk tidak menunggu Mama, tapi langsung bawa Deni ke UGD Carolus, en ketemuan sama Mama ditengah-2 aja. Papa langsung nyiapin mobil en minta tolong tukang untuk bantu mindahin Deni ke mobil. You know what? Butuh 4 orang tukang untuk bantu angkat Deni ke mobil. Jangankan mindahin tubuhnya, mindahin kakinya yang tergelantung aja tadi gw ga sanggup, saking beratnya.

Dalam perjalanan ke RS, Papa tetap berusaha tenang mengendarai mobil ditengah-2 macetnya jalanan dan situasi yang penuh tekanan itu, masih ditemenin sama 3 tukang yang ikut bantu angkat Deni ke dalam mobil. Kita ketemuan sama Mama di dermaga (baru 1/4 jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke RS), kemudian Mama pindah ke Kijang, duduk mangku Deni, sedangkan gw pindah ke civic, disetirin sama P. Toni (kebetulan hari itu P.Idod, supirnya mama ijin ga masuk) iring-2an menuju RS. Gw masih sempet sms dan bbm sodara-2 maupun sahabat-2 gw, mohon doa untuk Deni yang saat itu ga bisa gw jabarin kondisinya pastinya.
Jalanan sangat tidak bersahabat hari itu, selain macetnya seampun-2, berkali-2 kita kena lampu merah, sehingga butuh waktu 1jam lebih untuk sampai di Carolus.
Begitu sampe di UGD Carolus, Papa langsung turun dari mobil, lari masuk ke UGD untuk panggil suster yang bertugas. Ada kalimat yang keluar dari mulut suster yang datang bawa tempat tidur derek, yang bikin gw emosi en pengen nampar tuh suster rasanya. Waktu Deni diturunin dari mobil, dibantuin sama 3 tukang, si suster ini ngomonk : "Apaan tuh??". What??? What do you mean with "Apaan tuh"??. Itu kakak gw, monyonk!!!
Again, kekecewaan gw muncul waktu Deni ga langsung mendapat penanganan setelah dibawa ke UGD. Ada sekitar 5 menit dari sejak Deni dibawa masuk ke UGD sampai dokter jaga datang untuk memeriksa. Dengan menempelkan stetoskopnya beberapa kali ke dada Deni, si dokter dengan datar berkata : "ini udah ga ada" (sama seperti suster tadi, si dokter juga menyebut kakak gw dengan "ini"???. Tapi gw udah ga sanggup marah saat itu). Ada keheningan sejenak disana, kemudian Mama bertanya kembali ke dokter itu, dan sang dokter memperjelas bahwa Deni sudah tidak ada.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, yang pasti saat itu kami semua histeris berteriak-2, meminta sang dokter untuk memeriksa ulang dengan peralatan lain (alat kejut, dsb). Dan untuk meyakinkan kami, salah seorang suster memasang alat di dadanya Deni yang tersambung di monitor. Kemudian suster itu menunjuk kearah monitor dan terpampanglah garis lurus disana.

Mama Papa langsung memeluk Deni, nangis meraung-raung. Baru pertama kali itu gw ngeliat Papa menangis tersedu-2, kerutan diwajahnya langsung terlihat jelas. Berkali-2 Mama dan Papa menyalahkan diri sendiri dan berandai-2 :
"Andai saja tadi pagi sebelum Mama berangkat ke kantor Mama naek dulu ke kamar kamu en ngecek keadaan kamu ya, Den",
"Andai aja semalem, waktu kamu bilang capek en ga enak badan, Mama nawarin kamu tidur di kamar Mama",
"Andai aja Papa lebih sigap waktu tadi pagi kamu ngomong kurang jelas en minta dibikinin bubur",
dan andai-2 lainnya..

Ga bisa gw bayangin betapa hancurnya hati mereka. Abang gw satu-2nya, anak laki-2 mereka satu-2nya, pergi untuk selama-2nya di usianya yang masih sangat muda ( 31 tahun), sekali lagi, tanpa tanda-2 dan mereka tidak ada disampingnya saat Deni menghembuskan napas terakhirnya. Yaa..tidak ada siapapun saat itu. Bahkan tidak ada yang tau secara pasti, kapan dan bagaimana Deni menghembuskan napas terakhirnya.. Tapi kalo diliat dari raut wajahnya yang tenang, gw yakin 1000% Deni pergi dengan tenang, tanpa rasa sakit sedikitpun!!!!

Well, siapa yang akan menyangka, kalo hari sabtu - minggu, tanggal 10 - 11 April 2010, saat kita (Mama, Papa, Deni en gw) inap di rumahnya Lisa di BSD adalah saat-2 terakhir kami bisa berkumpul bersama Deni dalam satu keluarga lengkap?
Siapa yang akan menyangka, dengan hasil lab Deni dan hasil periksa ke dokter alternatif hari sabtu itu yang semuanya menunjukkan perkembangan dan hasil yang luar biasa bagus adalah saat-2 terakhir Deni di puji-2 karna niat dan tekadnya untuk hidup sehat semakin terlihat jelas?
Siapa yang akan menyangka, kalo hari minggu tanggal 11 April 2010, pulang dari BSD en Deni pamit tidur duluan karena cape, adalah pamit dalam arti sesungguhnya?
Siapa yang akan menyangka???? SIAPA?!?!?!?!?!?

Dengan langkah lunglai, gw meninggalkan Mama dan Papa yang masih terisak-2 dan terus membelai lembut wajahnya Deni. Gw harus ngabarin Lisa, Lewi, dan kerabat-2 lainnya. Gw juga harus pulang ke rumah untuk nyiapin jas, kemeja, sepatu, sarung tangan, dll untuk keperluannya Deni. Sementara Mama tetap berada disampingnya Deni sambil berdoa Rosario, Papa mengurus surat-2 kematian di bagian administrasi juga mengurus ruangan di rumah duka St. Carolus.

Setibanya di rumah, mandor dan tukang-2 yang lain langsung menghampiri gw dan mengucapkan turut berduka cita. Kemudian gw naik keatas, ke kamarnya Deni, berbaring ditempat tidurnya Deni dan kembali menangis..menangis..menangis..dan menangis!! Sempet gw marah dan kecewa sama Tuhan, karena Tuhan telah mengambil kakak gw begitu aja tanpa memberikan gw kesempatan untuk pamit en bilang betapa gw bangga mempunyai kakak seperti dia, betapa gw mencintainya dan sangat takut kehilangan dia dari sejak pertama kali dia masuk ICU beberapa tahun yang lalu, betapa gw sangat menyesal dengan semua sikap dan kata2 gw yang sering memojokkan dia.
Setelah rasanya puas menangis, menumpahkan semuanya, gw mulai menyiapkan barang2 yang akan dipakai Deni pada saat2 terakhirnya dimuka bumi ini. Mulai dari kemeja putih lengan panjang yang paling putih dan paling bersih diantara kemeja putih lainnya, setelan celana dan jas hitam yang Deni pake waktu kawinan gw dulu, kaos kaki, sepatu (karna waktu itu gw ga bs nemuin sepatu pantofelnya yang bagus, yang biasa Deni pake ke gereja, jadi terpaksa gw ambil sepatu pantofelnya Lewi.  Walopun gw tau, Deni paling ga suka pinjem-2 barang orang, tapi kali ini semoga dia mengerti, kalo gw cuman pengen yang terbaik buat dia en gw juga yakin kalo Lewi ga akan keberatan sama sekali memberikan sepatunya tsb), juga sarung tangan warna putih. Abis itu gw langsung berangkat lagi ke RS.

Dalam perjalanan balik ke RS, gw yang saat itu memegang ke 4 HPnya Deni, mulai mengirim sms blast dan menelpon khusus beberapa temannya yang gw kenal juga. Reaksi mereka semua SHOCk!! Ga ada yang percaya soal kepergian Deni yang begitu mendadak!! Hampir semua temennya Deni yang gw telpon saat itu bilang kalo terakhir mereka liat Deni, dia dalam keadaan sehat walafiat, Deni masih makan siang dengan menu dietnya, dsb. Yah..jangankan mereka, gw sekeluarga aja berasa kayak kecolongan!!

Sampai di rumah duka Carolus, ternyata sudah banyak sodara dan tamu yang datang (mulai dari karyawannya Mama, temen-2 kantor Lisa dan gw, juga orang lingkungan). Beberapa orang dari lingkungan Elizabeth yang sudah datang siap untuk membantu persiapan misa requim dan membantu urusan surat-2 kematian Deni. Tapi saat itu papa bersikeras untuk mengurusnya sendiri, Papa juga memilih sendiri peti yang akan dipakai Deni. Dan Mama masih terus berada disisinya Deni yang saat itu sudah terbujur kaku.
Karna diabetnya, walopun Deni akan langsung dimakamkan pada keesokan harinya, tanggal 13 April 2010, Deni tetap harus diformalin. Sebetulnya gw sama Mama ga mau Deni di formalin, karna jujur kita masih berharap kalo Deni hanya mati suri, dan dia akan segera bangun lagi. Setelah diformalin, Deni dimandiin oleh petugas kemudian tante Vonny dan sepupu gw, Sandra, ikut membantu memakaikan baju dsb.

Saat Deni yang sudah rapih, bersih dan keliatan gagah diletakkan dalam peti yang terbuat dari kayu jati, dengan ukiran perjamuan terakhir di sisi kanan kiri peti, bunga dan renda-2 disisi dalam peti, orang-2 yang mulai berdatangan mengucapkan belasungkawa, serta karangan-2 bunga mulai memenuhi rumah duka, semuanya baru terasa nyata. Yep, itu bukan mimpi lagi. 
Sekitar jam 15.00 Lisa nyuruh gw untuk ajak Mama Papa pulang supaya bisa istirahat sejenak, sebelum nanti malam misa requim en tamu-2 lebih banyak lagi yang berdatangan.
Di rumah, tidak ada satupun dari kita yang bisa beristirahat. Mama menangis meringkuk ditempat tidurnya sambil terus menerus memanggil-2 nama Deni. Sedangkan Papa duduk terdiam di ruang tamu dengan tatapan kosongnya. Aaaaaaaaaarrghhhhh...seandainya ada yang bisa gw lakukan saat itu selain sebuah pelukan dan kata-2  yang sepertinya juga sangat gw butuhkan untuk menenangkan hati gw!

Missing Brides

Belum lagi ilang bayang-2 kepergiannya Maria yang bergitu mendadak dan sangat mengenaskan, hari senin itu gw tiba-2 pengen banget ngobrol sama temen gw, Lintong, yang April ini mo merit, en gw juga ikut bantu-2 dia untuk nyari supplier undangan en souvenir dsb.
Gw coba telpon, ga akttif.. Gw sms, ga ada report delivered maupun failed.. bbm en YM nya juga ga aktif.. Gw mulai bingung, lagi ngapain ya nih anak? Gw juga sempet cerita sama Lewi, tapi jawabannya Lewi santai banget "paling lagi sibuk ngurusin weddingnya, Yank". Tapi gw ga ngerasa se simple itu. Karena biasanya minimal seminggu sekali kita selalu contact, en contact terakhir gw sama Lintong itu senin minggu lalu, abis itu setiap gw coba telp dia ga pernah bisa!!!

Selasa pagi,
mata masih lengket, tapi bunyi PING! berkali-2 dari bbm bener-2 memaksa gw untuk merogoh kebawah bantal en ngecek syapa yang ga ada kerjaan bbm gw pagi-2 (pas gw ngelirik jam, masih jam 6 kurang). Pas gw baca bbm nya, ternyata Babas, temen deketnya Lintong, yang belum lama ini juga menjadi temen gw, nanyain kabarnya Lintong. En message selanjutnya yang bikin gw melek semelek-meleknya! Pasalnya, nyokapnya Lintong nangis-2 nyariin Lintong ke Babas, karena udah 2 hari ini Lintong ga pulang kerumah. En Babas yang ga tau apa-2, gantian nanyain soal Lintong ke gw. Nah, gw yang dah panik dari kemaren ga berhasil ngubungin Lintong, semakin panik lagi jadinya. Ga pake babibu, gw langsung turun, nyamperin nyokap di kamarnya, en cerita soal Lintong ini. Gw takut, apa yang gw bayangin jadi kenyataan...
Nyampe di kantor, gw juga langsung telpon calon suaminya Lintong, yang ternyata saat itu masih di balik papan. So, dengan mengarang bebas (karena dapet wanti-2 sebelumnya dari Babas, supaya ga ada kesalahpahaman nantinya), mulailah gw bersandiwara dengan Mas Aris. Dari hasil pembicaraan tersebut, dapat disimpulkan kalo Lintong masih contact-2an sama Mas Aris, coz Mas Aris bilang kalo Lintong lagi ga enak badan 3hari belakangan ini, karena program suntik lemaknya. Gw juga dapet sikit bocoran dari Mas Aris tentang Lintong..khekekekek (Lintong pasti marah kalo tau ini).

Pencarian gw sama Babas ga brenti sampe disitu, karena sampe sore kita tetep belum tau keberadaan Lintong, padahal semua temen-2 deketnya Lintong dah kita telponin satu persatu.
Dag...Dig...Dug...mewarnai perasaan hati gw hari itu. Apalagi waktu Lisa cerita, kalo dia mimpiin Lintong, pas dia lagi ketiduran dalam perjalan pulang Bandung - Jakarta siang itu. Dimimpinya Lisa, dia ketemu Lintong di daerah kota, en Lintong ilang ingatan! Dessssss....makin ga karuanlah perasaan gw!!!

Sekitar jam 9 malem, pas gw sama Lewi lagi nongkri bareng temen-2 kuliah di roof top, gw dapet kabar menggembirakan dari Babas. Lintong dah pulang kerumah!!!
Ga pake nunggu lama, langsung gw telpon si kunyuk satu itu, yang udah bikin gw deg-2an sepanjang hari, en ngabis-2in pulsa buat nelpon anak-2 nyariin dia.
Ternyataaaaa, Lintong sempet ada selisih sama nyokapnya, en untuk menenangkan diri dia pilih untuk meninggalkan rumah dalam keadaan sakit (saat itu dia belum dinyatakan typus, tapi suhu tubuhnya udah 37.5 derajat). Bawa mobil sendirian, keliling jakarta, en tidur di parkiran Mc.D 24 jam!!!
Geeezz...gw bener-2 ga ngerti otaknya ni anak waktu itu ada dimana. Bukannya nginep di rumah gw ato temennya yang lain, atau kalo dah mepet banget kan bisa nginep di hotel! En alasannya dia ga inap di rumah gw atau salah satu temennya, karena takut dimarahin en disuruh pulang lagi kerumah! Haiyaaaaaa Tong Tong...how old are you sih??? Pentingan mana coba : nyawa, kesehatan atau terima aja kalo dinasehatin sahabat-2 lo sendiri???

My deep condolence

Senin pagi sampe dikantor, langsung disambut dengan berita duka cita dari Dave, salah satu sahabat gw di divisi EO One. Temen gw bilang, kalo Maria, pacarnya Dave tadi pagi mengalami kecelakaan motor en meninggal ditempat.SHOCK!!! merinding en sesek napas bercampur jadi satu! Gw bahkan ga sanggup melanjuti langkah gw naek ke lantai 3 (ga ada lift di kantor gw). Gw memang ga terlalu kenal sama Maria, walopun beberapa kali event, Dave selalu ngajak serta Maria. Tapi gw deket banget sama Dave, en skenario tragedi yang menimpa Maria, yang membuat gw speechless, ilang energi dsb.

Jadi hari itu, selesei managerial meeting, yang untungnya cepet selesei (karna ada beberapa divisi yang ga hadir, en babe boss juga telat dateng, jadi kita mulai dan selesaikan secepat mungkin), kita (perwakilan dari team PR, EO One, AE en MCL) langsung berangkat menuju RSUD Tangerang (jenazah di fisum disana karena rumah en lokasi kecelakaannya ada disana), sebelum dibawa ke rumah duka Oasis Lestari. Dari RSUD Lestari, kita iring-2an sama mobil jenazah menuju rumah duka. Asli, sepanjang perjalanan itu, gw ga bisa berenti menitikkan air mata, apalagi waktu gw ngeliat Dave di mobil jenazah, duduk diem ngeliatin petinya. Hati gw seperti teriris-2 rasanya.

Sampe di Oasis Lestari, (gw terkagum-2 sama tempat kremataorialnya yang besar en terlihat mewah!), kita nemenin Dave di ruang mandi jenazah, sambil nunggu keluarganya Maria ngurusin administrasinya en mendengarkan versi lengkap dari kronologis peristiwa tragis itu. Gw ga sanggup menceritakan secara detail, bagaimana bus besar itu melindas Maria di saksikan ayah en adiknya sendiri. Yang bikin hati gw lebih hancur lagi, waktu Dave cerita, kalo cincin kawin mereka baru aja diambil hari sabtu lalu. En seperti sebuah firasat ato apapun itu istilahnya, Maria seminggu yang lalu sibuk ngurusin jamsosteknya dan semua asuransi-2 kecelakaanya.

Geez....kadang gw berpikir, Tuhan memang empuya jiwa-2 di dunia ini, Dia bisa mengambil kita kapanpun Dia mau, cuman cara-2 seperti ini yang bikin gw binggung.
Haruskah setragis ini?
Ketika Dave sudah bosan menjadi petualang cinta, dan siap melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi...
Ketika rencana-2 sudah tertuang dan pernikahan ada di depan mata..
Hal seperti ini tak dapat dihindari lagi...
Manusia memang boleh punya rencana, tapi Tuhan yang maha menentukan..

Selamat jalan Maria, kamu pasti sudah berbahagia saat ini, duduk disisi kanan Allah Bapa.

BIG SURPRISE!!!

Bulan Maret ini Lewi pulang....yeaaaay...ga sabar nunggu tanggal 5 Maret!! Dari tadinya tanggal 15 Maret, dimajuin jadi tanggal 8 Maret, trus dimajuin lagi jadi tanggal 5 Maret. Kantornya Lewi emank baek banget dah...tau aja kalo bininya dah ga sabar pengen ketemu, jadi dimajuin terus tanggalnya :D
Untuk menyambut kedatangannya Lewi, gw dah prepare belanja cumi-2, mo masak cumi rica-2 kesukaannya Lewi. Gw juga dah nyiapin seprei yang bakal gw pasang tanggal 5 Maret pagi, lilin aroma therapy yang gw pesen khusus dari kakak gw di scentluv. Pokoknya, ketika hari itu tiba, segala sesuatunya harus sempurna!!

Rabu, tanggal 24 Februari 2010, gw masih make sure lagi ke Lewi, bener kan pulang tanggal 5 Maret? Tiket dah ditangan kan? Karena gw mo atur strategi, gimana caranya meninggalkan kantor hari itu. Apakah gw ijin ga masuk kantor, ato gw ijin 1/2 hari ?
But then, pulang dari miting di fX hari Rabu itu, gw ga enak body, so kamisnya gw putusin untuk ga ngantor (selain karena alesan dr post gw sebelumnya). Hari kamis itu gw mulai mikir lagi, kalo kamis itu gw ga ngantor, trus jumat depan tanggal 5 Maret gw ga ngantor lagi, mo kasih alesan apa ya? Kalo bilang sakit, *tok..tok..tok..knock on wood* jangan sampe gw sakit beneran, en gw juga ga mau kalo kesannya nanti gw itu letoy banget, bentar-2 sakit!!

Nah, dari hari Kamis itu, bokap antusias banget nyeritain, kalo Sabtu tanggal 27 Februari 2010, bokap mo ngenalin anak angkatnya, yang selama ini bokap bantu biayain sekolah & kuliahnya.
Basicly, gw ga terlalu kaget waktu bokap bilang punya anak angkat, karena di keluarga gw, itu merupakan hal biasa, dimana nyokap ato bokap suka membiayai anak-2 yang tidak mampu (bisa sodara jauh yang kurang mampu, maupun rekomendasi dari teman-2 ato sanak sodara). Tapi yang gw bingung saat itu, tumben-2an bokap mo bawa anak angkatnya kerumah, karena biasanya gw bahkan ga tau yang mana anak angkat ato lebih tepatnya anak asuh bonyok gw.
Hari jumatnya, nyokap juga semangat banget ngebahas anak angkatnya ini, sampe pusink sendiri ngatur mo makan siang dimana kalo anak angkatnya dateng! Desssssss....segitu specialnya kah ini anak, pikir gw. En berhubung kondisi gw saat itu lagi kurang fit, gw jadi bete setiap nyokap bokap gw ngebahas anak angkatnya. Apalagi gara-2 si anak angkat ini dateng, rencana kita ke Bandung hari Sabtu itu jadi batal dech!! grrrrrr...

Hari Sabtu, 27 Februari 2010, hari yang ditunggu-2 bonyok gw, menyambut kedatangan anak angkatnya!!
Pagi itu, seperti biasa kita breakfast bareng, ga ada pembicaraan serius (khususnya mengenai kedatangan kakak angkat), hanya ada pertanyaan regular dari nyokap: "Lewi pulang kapan, Cis?", "Tanggal 5 Maret, Ma..udah fix koq, karena tiketnya dah ditangan".
Abis breaky, gw dapet tambahan energy buat rapi-2 kamar, abis itu gw berendam aer panas, trus nyamperin nyokap dikamarnya (nyokap minta tolong di blow in rambutnya). Pas lagi di blow, nyokap nanya, "kamu nanti ikut kan makan siang bareng kakak angkat kamu? Kita rencananya mo makan sushi". Trus gw jawab, "jangan sushi donk, kan minggu depan Lewi pulang, kita bakal makan sushi lagi (sushi juga salah satu makanan favoritenya Lewi), nanti keburu bosen!". Tapi nyokap maksa, dengan alasan lagi pengen banget, en kakak gw juga dah jalan dari BSD.
Btw, gw sempet nanya-2 nyokap soal kakak angkat gw ini: umur berapa, ganteng ga? wakakakakak....

So, jam 10 kita berangkat ke mall, pake 2 mobil (1 lagi kejanggalan yang gw temuin, kenapa harus naek 2 mobil?padahal biasanya nyokap lebih suka rame-2 dalam 1 mobil), gw berangkat duluan bareng nyokap en Deni (kakak cowo gw), bokap nyusul bareng kakak angkat gw (waktu itu belum tiba).
Sampe di sushi groove KGM, gw langsung sibuk pesen ini itu, sampe ga ngeh ada orang yang berdiri merhatiin gw ga jauh dari meja gw. En waktu gw nengok ke arah orang itu, butuh waktu kurang lebih 5 detik untuk menyadari bahwa itu LEWI!!!!
OMG, Lewi is here!!! and sebelah Lewi itu bokap gw, ga ada orang lain (not even kakak angkat gw).
Spontan gw teriak, sambil lari kearah Lewi, terus loncat kedalam pelukannya...Asli, walopun teriakkan gw cukup mengaketkan beberapa customer yang ada disana en tempat makan sekitarnya, gw ga peduli!!!! Seperti di pelem2 Indihe nehi-2, gw hanyut dalam pelukannya Lewi sambil bentar-2 nyubit lengannya en nyebut dia penipu, karna dah bohongin gw!!

Ternyata, Lewi kongkolikong sama Mapa, buat ngerjain gw...Ga ada itu yang namanya kakak angkat (setidaknya untuk kasus kali ini)!!! Bahkan Lisa en tante Dida aja udah tau soal rencana kepulangannya Lewi hari itu. Mereka bener-2 sukses ngasih surprise ke gw....

Thank you God....Thank you all.. for a lovely suprise... i LOVE you all

Kawan Lama

Rabu lalu gw drop banget...selain karena kecapean, sepertinya lebih dikarenakan sakit ati gw sama management di kantor gw!!
Dari yang paginya gw masih sehat walafiat, ketawa-ketiwi sepanjang perjalanan ke fX, lunch di pizza marzano sebelum miting, tiba-2 pulang langsung menggigil ga karuan!
Bayangin aja, seminggu full jadwal gw dipadetin dengan miting disana sini, en smua hasilnya maen dimentahin gitu aja sama babe boss..Mending kalo cuman dimentahin, lebih tepatnya dilepehin!!!! En alasannya itu yang bikin gw shock!!!!! Ternyata selama ini babe boss masih berpatokan pada "kawan lama harus diutamain", ga peduli si "kawan lama"nya itu menghargai kita juga ato ga!!!! Damn!!!!
En puncaknya adalah hari Rabu kemarin. Can you imagine, ditengah-2 miting penentuan event gw yg tinggal menghitung hari, tiba-2 babe boss nyuruh gw untuk ngambangin semua hasil miting?? Gara-2nya si "kawan lama" yang dah 2 minggu lebih gw follow up ga ngasih kabar karna katanya lagi sibuk ngurusin java jazz, tiba-2 baru kasih kabar mo kerjasama dengan kita!!!! En itu setelah gw deal dengan radio lain!!!!!!

So, gw putusin untuk ga masuk kantor hari kamisnya, mengingat jumatnya juga pas kebetulan tanggal merah, jadi gw mempercepat long weekend aja. Tapi ternyata istirahat gw ga berjalan mulus, karena pikiran gw ga bisa berenti dari semua urusan miting en perayaan ultah kantor yang diselenggarain hari itu. Belum lagi team gw yang bentar-2 nelp nanya ini itu. PLUS, gw kelewatan nonton GLEE!! Jadilah hari kamis itu yang ada gw malah uring-2an di rumah.

Seninnya, karena kondisi kesehatannya gw belum pulih juga (radang tenggorokan), akhirnya gw mutusin buat ke dokter, sekalian minta surat ijin sakit (ga masuk kerja lagi hari itu). Satu hal yang gw hindarin hari itu adalah jadwal regular managerial meeting! Ngebayangin duduk miting lama-2 ngebahas agenda miting yang suka ngalor ngidul ga jelas juntrungannya (tergantung pemimpin rapat), trus harus berhadapan sama babe boss yang pastinya bakal ngotot mempertahankan "kawan lama"nya itu udah berhasil bikin gw mual sendiri. Jadilah hari itu gw memantau hasil miting lewat YM conference.

Nah, hari selasanya baru dech seru... Gw maen kucing-2an sama babe boss  :D
Awalnya, karena gw tau si "kawan lama" ini ngajakin miting hari selasa itu di kantornya, en gw bilang kenapa ga di kantor kita aja? Dan ternyata si "kawan lama" ini dengan sombonk dan angkuhnya ga mo miting di kantor kita yang katanya lumayan jauh dari tempat mereka, so mereka ngajakin ketemua di tengah-2 aja.
Helllllloooooooouuuuuuwwwwww, yang butuh kerjasama ini syapa ya? Kenapa jadi mereka yang ngatur-2 en seenak udelnya geto sich!!! Jadi, untuk menghindari dari meeting dengan si "kawan lama", gw pun juga harus menghindari babe boss sementara.
Pagi itu, begitu nyampe kantor, gw langsung nyamperin sekretarisnya babe boss, nanyain jadwalnya babe boss hari itu apa aja. Menurut jadwal, kegiatan babe boss hari itu padet diluar kantor semua. Means, gw aman di kantor :D
Sekitar jam 10 an babe boss nelpon gw, tapi ga gw angkat..Terus dia bbm gw : "kamu masih sakit, Fran?", ga gw baca saat itu (supaya ga muncul tanda "R" dicentang di report bbmnya). Sebelum makan siang, sekitar jam 12 kurang, babe boss nelpon gw lagi, en masih belum gw angkat juga. Sampe akhirnya sekitar jam 1an, sekretarisnya babe boss nelpon ke HP gw en tetep ga gw angkat, terus dia coba nelpon ke temen gw yang selalu pergi makan siang bareng gw, en teteup gw suruh temen gw bilang kalo dia lagi ga sama gw saat itu..(aseli, gw nakal banget ya???) :D :D
Ga lama kemudian babe boss nelpon gw lagi...dengan manisnya gw angkat telpon
Gw : Hallo, Pak?
Babe boss : Fran, saya bbm kamu ga di bales
Gw : (pura-2 bego) Loh, emank bapak bbm ya? Belum masuk tuh, Pak
Babe boss : Oh, mungkin jaringannya lagi error ya? soalnya reportnya delivered
Gw : *Glek...sambil nelen ludah*
then, blaaaa....blaaaaa....blaaaaa....babe boss mulai ngomongin panjang lebar soal rencana meetingnya dengan si "kawan lama". Berhubung babe boss mo ke Singapore hari Rabunya, gw disuruh meeting duluan sama si "kawan lama", tapi gw tolak mentah-2..
Gw bilang, kalo mo meeting sama si "kawan lama", gw maunya bareng sama babe boss..Karena babe boss lebih kenal dia, en tau maunya si "kawan lama" itu apa. Apalagi keputusan juga ada di tangan babe boss, jadi daripada hasil meetingnya nanti mentah lagi, mendingan dibuat seefektif mungkin. Ya toch??? En babe boss akhirnya setuju, meeting dengan "kawan lama" nunggu sampe babe boss pulang dari S'pore hari jumat besok.

Yeaaaaay.....puas banget hari itu gw jadi BAD Employeeeeee!!!

*boys and girls...please don't do this at your office!!!!!*